Sekolah Menengah Telok Kurau
T elah aku hangat didakapan mu
E ngkau tersergam berpeluk dipersimpangan
L orongan jalan ramai bercumbu
O rak-arik mencari segulung ijazah
K eramaian taulan bersatu hajat
K ini sergam mu merata separas
U kuran usia dihukum lumat
R ibuan terlahir hanya mampu berpandang
A tas kadar terkubur wisma badan
U ntuk mu ku tabur kuntuman melor
patah tak tumbuh
hilang tak berganti
tapi nisan mu
melata disana sini
Mendam
ReplyDeleteAnak itu maseh degil
Tidak reti bahasa
Tidak mahu dengar cakap
Suka hati buat hal
Tapi anak itu tidak dungu
Tapi anak itu tidak tuli
Tapi anak itu tidak sasau
Karna anak itu dah dewasa
Dewasa usia
Tapi berperangai keanakan
Mengapa ?
Mungkin maseh berputingkan ego
EndoN
ReplyDeleteku pasak tiang empat
ku naikkan dinding anyaman
berdaun pintu dan jendela
lintapan nipah menjadi atap
disini kita bersimpul kaki
duduk bersembang dihambar mengkuang
disini kita beradu lena
bertilamkan anak-anak kerikil
disinilah kita terlindung
dari bahana mentari
dari desiran dingin
ku bersyukur redha pondok ku terbina
berseli masa ku perasan sedar
jiwa mu memandang kapang
kau berendon ketempat lain
tiLam aiR maTa
ReplyDeletepernah dulu kau senyum pada ku
senyuman manis kau layangkan
pernah dulu kau melirik pada ku
lirikan manja kau kenyitkan
pernah dulu kau bercumbu kata
kata pesona kau persembahahkan
acap kali ku teringat
setiap kali bibir terkomat
kaki kaku jiwa terjerat
gering terdorong terasa penat
mungkin aku lewat menadah
linangan hiba lunak membasah
berbantal lengan lelap sekadar
rupanya aku bertilam air mata
Luluh
ReplyDeleteDipertinggian kau ku tara
Seolah obor menggurat api cahaya
Berkemilauan tamsil tandu berpermata
Berhias sutera berhasta
Siapa bertomah
Kau ku bela
Siapa mencela
Kau ku puja
Mata ku pandang kau lah dewi
Jiwa ku godam kau lah kasih
Setiap penjuru wajah mu jelma
Persis berada dimana-mana
Tapi sayang seribu kali sayang
Aku hanya bercumbu bayang
Penaka minyak panas ku tatang
Pujaan ku diambil orang
Siapa bertomah siapa mencela
Tak ku bela tak ku puja
Aku hanyut diluluh segara
Bindu
ReplyDeleteMata ku terkenyit-kenyit
Gugur sehelai alis
Apa maksud nya?
Kuping ku meriang
Gegendang dalam mendengung
Apa maksud Nya ?
Tidur ku tak lena
Menggelisah tak sudah
Apa maksud nya ?
Jantungku berdebar
Seolah berdentam bedok raksasa
Apa lagi maksud Nya ?
Meleleh air liur ku
Tersedak tekak ku
Tercungap nafas ku
Aku dilamun ulitan ayu
cuPak hanYuT
ReplyDeleteini lah yang ada pada ku
pakaian sehelai sepinggang
buat sarungan tubuh harian
ini lah yang ada pada ku
segenggam beras hancur
buat nasi pengalas perut
ini lah yang ada pada ku
sehelai coretan kepir
terkapang menunjuk hala
ini lah aku kepiatuan
tubuh lesu mendaki pertinggian
bertongkat hajat berpelana cobek
duduk sendirian bertemankan mustika
linangan hiba bercungkil duka
tiada siapa mau ku sapa
tiada siapa mau mendengar
aku hanyut disegara lisah
karna aku sebatang kara
Ibu
ReplyDeleteIbu kandung
Kaulah yang mewismakan ku
Dari segumpal darah
Berbulan lama dikesayangan
Bertarung nyawa tika melahirkan
Kau mulya diaras tandu
Ibu keladi
Kau dah lanjur tapi tak sedar
Dah kusap maseh kepingin
Muda takkan kembali
Uban mu petunjuk seria
Ibu kota
Dari pekan kau membina luas
Ramai jelata berpenghuni
Banyak pencakar langit tertugu
Himpunan segala rawang gelagat
Tertulis nama tersohor raya
Ibu roti
Ibu ayam
Ibu jari
Ibu suri
Ibu sawat
Ibu pertiwi dan ibu-ibu
Adalah pemangkin segala nya.......
Mabuk Cendawan
ReplyDeleteKu pandang kanan terbayang wajah mu
Ku pandang kiri terbayang wajah mu
Ku pandang depan terbayang wajah mu
Dalam bejana air terbayang wajah mu
Dalam cermin terbayang wajah mu
Dalam tidor terbayang wajah mu
Seharian ku lesu menyebu
Semalaman ku tak lena beradu
Sepekan ku berkecamuk rindu
Jiwa meresah hati bergundah
Fikiran berpusar mengawan keliru
Aku gelisah
Aku kepudaran kelemayar
Makan tak kenyang
Tidur tak lena
Mandi tak basah
Senja
ReplyDeleteDetik mu rapat
Berduyun insan kelam-kabut
Berjelata kembali kepangkuan
Kembali membawa titipan
Setelah seharian berkeringat
Detik mu gayat
Kau berluka dada
Sisa siang hari tertikam belati
Menyayat pandangan terasa kencang
Merah mu mewarna alam
Detik mu singkat
Solat cuma tiga rakaat
Belum luak nasi sepinggan
Luka mu terbalut diSelubung hitam
Senandung malam kelam
Senja itu bernafas sebelah
Berhayat nampak dan buta
Laila
ReplyDeleteSering wajahmu berselindang hitam
Amat meronta kelam
Berdendang anak dijendela
Merayu lentera rembulan
Leraikan cengkaman
Ada kala wajah mu berseri kencana
Amat sayup menumpang kasih
Mandian mu terasa semua
Berpuisi ponggok yang bertenggek
Merayu usah padam sinar rembulan
Hadir mu membentang munajat kasih
Hadir mu melayar ketakutan
Hadir mu membisu sepi
Hadir mu bercatur mimpi
Hadir mu jua perbanyakkan sendiri
Sebentar lagi kau kan pergi
Tetap esok kau kan kembali
Tapi yang aku tak pasti
Apakah aku dapat berpanjak dengan mu
Bersenandung dengan mu Laila
Anak wayang
ReplyDeleteTadi kita mengisak hiba
Berlinang deruan membasah pipi
Kini kita tertawa riang
Terbahak menggodak lahar suka
Tadi kita kemarahan amat
Menjulap geram menggores panas
Kini kita ketenangan sabar
Menyusun kematangan tertib
Tadi kita keangkuhan
Ego mendongak langit
Kini kita sedar keinsafan
Dah terhantuk baru nak terngadah
Tadi kita ketamakan
Gelojoh dan rakus menunjuk mampu
Kini kita terprihatin
Teringat anjing dengan bayang-bayang
Tadi dan kini
Cuma sekadar peringat masa
Terkulang-kulang berteromasa
Dipanggung dunia kita adalah anak-anaknya.
Ledang
ReplyDeleteNyai
Maseh aku duduk dikamar ini
Duduk seorang digulung sepi
Ku selak pintu jendela diri
Niat bermunajat pada Illahi
Nyai
Maseh aku terisak mengenang noda
Noda berkoyan angkara alpa
Ku tatang ampun dipersembah
Angbakti ku buat selamanya
Nyai
Maseh aku dilanggasi malap
Malap disuloh gelap
Aku kebutuhan segurat cahaya
Berilah daku pedoman andeka
Nyai
Kini ku terpandang kunangan cahaya
Dari celah dinding gelap kamar
Kunangan seolah lentera dinyala
Memutih kekuningan bercahaya
Ijab ku dikabul mandatang
Depan ku hadir sawangan ledang.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteMikrat
ReplyDeleteSelamat tinggal cinta ku
Selamat tinggal sayang ku
Selamat tinggal semua nya
Semoga baik-baik saja
Kini tiba waktunya
Bergalaskan hajat mulya
Tidak ku buat cura
Tidak ku reka pendua rasa
Perjalanan ku pertaruhan sepi
Pemergian jauh tiada sangsi
Mengembara seorang diri
Memandang kebarat bertapak kaki
Benarkan aku melambai mu
Lambaian sayup punah seribu
Mahu ku punya pingat didada
Kepingin daku antara yang diredha
Perjalanan jauh beronak duga
Bekalan ku Surah Pembuka
Dengan berkat doa......
Jemerlang sulohan
ReplyDeleteKenapa kita di dataran ini?
Duduk bersimpul berhimpit-himpit
Kepanasan
Keleparan
Kehausan
Keletihan
Kenapa kita di dataran ini?
Bertunda duyun
Beratapkan kebingungan
Diselimut kegelapan
Meraba-raba mencari segurat api
Membutuhkan sebening bantuan
Kenapa kita di dataran ini ?
Karna hari ini kita kan ditunjukkan
Dacing penimbang tingkah amanah
Karkun hadir persembah buku
Buku kan menyala penaka kandil
Kandil bersinar jemerlang sulohan
Semoga sirna kegemerlapan
Pimpin lah daku keambang nirvana .
Damba
ReplyDeleteMau tak kau kenyang
Tika melihat yang lain maseh kebuloran
Mau tak kau berlagak bijak
Tika melihat yang lain maseh bahalul dungu
Mau tak kau bersenang lenang
Tika melihat yang lain maseh daif kepapaan
Mau tak kau terbahak gumbira
Tika yang lain maseh duka nestapa
Mau tak kau lempah
Tika yang lain maseh menyorok tangan
Mau tak kau membuta pandang
Tika yang lain maseh mencari kebenderangan
Mau tak kau membisu tegur
Tika yang lain maseh gagap gugup
Mau tak kau ingat sedar
Tika yang lain maseh hanyut khayalan
Mau tak kau bersama ku
Kita melangkah kedataran pertemuan
Bermohon ramai menatang ampun