Sunday, 5 June 2011

Puisi

Sekolah Menengah Telok Kurau

T elah aku hangat didakapan mu
E ngkau tersergam berpeluk dipersimpangan
L orongan jalan ramai bercumbu
O rak-arik mencari segulung ijazah
K eramaian taulan bersatu hajat

K ini sergam mu merata separas
U kuran usia dihukum lumat
R ibuan terlahir hanya mampu berpandang
A tas kadar terkubur wisma badan
U ntuk mu ku tabur kuntuman melor

patah tak tumbuh
         hilang tak berganti
tapi nisan mu
       melata disana sini      

16 comments:

  1. Mendam

    Anak itu maseh degil
    Tidak reti bahasa
    Tidak mahu dengar  cakap
    Suka hati buat hal
    Tapi anak itu tidak dungu
    Tapi anak itu tidak tuli
    Tapi anak itu tidak sasau
    Karna anak itu dah dewasa
    Dewasa usia 
    Tapi berperangai keanakan
    Mengapa ?
    Mungkin maseh berputingkan ego

    ReplyDelete
  2. EndoN

    ku pasak tiang empat
    ku naikkan dinding anyaman
    berdaun pintu dan jendela
    lintapan nipah menjadi atap

    disini kita bersimpul kaki
    duduk bersembang dihambar mengkuang
    disini kita beradu lena
    bertilamkan anak-anak kerikil
    disinilah kita terlindung
    dari bahana mentari
    dari desiran dingin
    ku bersyukur redha pondok ku terbina

    berseli masa ku perasan sedar
    jiwa mu memandang kapang
    kau berendon ketempat lain

    ReplyDelete
  3. tiLam aiR maTa

    pernah dulu kau senyum pada ku
    senyuman manis kau layangkan

    pernah dulu kau melirik pada ku
    lirikan manja kau kenyitkan

    pernah dulu kau bercumbu kata
    kata pesona kau persembahahkan

    acap kali ku teringat
    setiap kali bibir terkomat
    kaki kaku jiwa terjerat
    gering terdorong terasa penat
    mungkin aku lewat menadah
    linangan hiba lunak membasah
    berbantal lengan lelap sekadar
    rupanya aku bertilam air mata

    ReplyDelete
  4. Luluh

    Dipertinggian kau ku tara
    Seolah obor menggurat api cahaya
    Berkemilauan tamsil tandu berpermata
    Berhias sutera berhasta
    Siapa bertomah
    Kau ku bela
    Siapa mencela
    Kau ku puja
    Mata ku pandang kau lah dewi
    Jiwa ku godam kau lah kasih
    Setiap penjuru wajah mu jelma
    Persis berada dimana-mana
    Tapi sayang seribu kali sayang
    Aku hanya bercumbu bayang
    Penaka minyak panas ku tatang
    Pujaan ku diambil orang
    Siapa bertomah siapa mencela
    Tak ku bela tak ku puja
    Aku hanyut diluluh segara

    ReplyDelete
  5. Bindu

    Mata ku terkenyit-kenyit
    Gugur sehelai alis 
    Apa maksud nya?

    Kuping ku meriang 
    Gegendang dalam mendengung
    Apa maksud Nya ?

    Tidur ku tak lena
    Menggelisah tak sudah
    Apa maksud nya ?

    Jantungku berdebar
    Seolah berdentam bedok raksasa
    Apa lagi maksud Nya ?

    Meleleh air liur ku
    Tersedak tekak ku
    Tercungap nafas ku
    Aku dilamun ulitan ayu

    ReplyDelete
  6. cuPak hanYuT

    ini lah yang ada pada ku
    pakaian sehelai sepinggang
    buat sarungan tubuh harian

    ini lah yang ada pada ku
    segenggam beras hancur
    buat nasi pengalas perut

    ini lah yang ada pada ku
    sehelai coretan kepir
    terkapang menunjuk hala

    ini lah aku kepiatuan
    tubuh lesu mendaki pertinggian
    bertongkat hajat berpelana cobek
    duduk sendirian bertemankan mustika
    linangan hiba bercungkil duka

    tiada siapa mau ku sapa
    tiada siapa mau mendengar
    aku hanyut disegara lisah
    karna aku sebatang kara

    ReplyDelete
  7. Ibu

    Ibu kandung
    Kaulah yang mewismakan ku
    Dari segumpal darah
    Berbulan lama dikesayangan
    Bertarung nyawa tika melahirkan
    Kau mulya diaras tandu

    Ibu keladi
    Kau dah lanjur tapi tak sedar
    Dah kusap maseh kepingin
    Muda takkan kembali
    Uban mu petunjuk seria

    Ibu kota
    Dari pekan kau membina luas
    Ramai jelata berpenghuni
    Banyak pencakar langit tertugu
    Himpunan segala rawang gelagat
    Tertulis nama tersohor raya

    Ibu roti
    Ibu ayam
    Ibu jari
    Ibu suri
    Ibu sawat
    Ibu pertiwi dan ibu-ibu
    Adalah pemangkin segala nya.......

    ReplyDelete
  8. Mabuk Cendawan

    Ku pandang kanan terbayang wajah mu
    Ku pandang kiri terbayang wajah mu
    Ku pandang depan terbayang wajah mu
    Dalam bejana air terbayang wajah mu
    Dalam cermin terbayang wajah mu
    Dalam tidor terbayang wajah mu
    Seharian ku lesu menyebu
    Semalaman ku tak lena beradu
    Sepekan ku berkecamuk rindu
    Jiwa meresah hati bergundah
    Fikiran berpusar mengawan keliru
    Aku gelisah
    Aku kepudaran kelemayar
    Makan tak kenyang
    Tidur tak lena
    Mandi tak basah

    ReplyDelete
  9. Senja

    Detik mu rapat
    Berduyun insan kelam-kabut
    Berjelata kembali kepangkuan
    Kembali membawa titipan
    Setelah seharian berkeringat
    Detik mu gayat
    Kau berluka dada
    Sisa siang hari tertikam belati
    Menyayat pandangan terasa kencang
    Merah mu mewarna alam
    Detik mu singkat
    Solat cuma tiga rakaat
    Belum luak nasi sepinggan
    Luka mu terbalut diSelubung hitam
     Senandung malam kelam
    Senja itu bernafas sebelah
    Berhayat nampak dan buta

    ReplyDelete
  10. Laila

    Sering wajahmu berselindang hitam
    Amat meronta kelam
    Berdendang anak dijendela
    Merayu lentera rembulan
    Leraikan cengkaman
    Ada kala wajah mu berseri kencana
    Amat sayup menumpang kasih
    Mandian mu terasa semua
    Berpuisi ponggok yang bertenggek
    Merayu usah padam sinar rembulan

    Hadir mu membentang munajat kasih
    Hadir mu melayar ketakutan
    Hadir mu membisu sepi
    Hadir mu bercatur mimpi
    Hadir mu jua perbanyakkan sendiri

    Sebentar lagi kau kan pergi
    Tetap esok kau kan kembali
    Tapi yang aku tak pasti
    Apakah aku dapat berpanjak dengan mu
    Bersenandung dengan mu Laila

    ReplyDelete
  11. Anak wayang

    Tadi kita mengisak hiba
    Berlinang deruan membasah pipi
    Kini kita tertawa riang
    Terbahak menggodak lahar suka
    Tadi kita kemarahan amat
    Menjulap geram menggores panas
    Kini kita ketenangan sabar
    Menyusun kematangan tertib
    Tadi kita keangkuhan
    Ego mendongak langit
    Kini kita sedar keinsafan
    Dah terhantuk baru nak terngadah
    Tadi kita ketamakan
    Gelojoh dan rakus menunjuk mampu
    Kini kita terprihatin
    Teringat anjing dengan bayang-bayang
    Tadi dan kini
    Cuma sekadar peringat masa
    Terkulang-kulang berteromasa
    Dipanggung dunia kita adalah anak-anaknya.

    ReplyDelete
  12. Ledang

    Nyai
    Maseh aku duduk dikamar ini
    Duduk seorang digulung sepi
    Ku selak pintu jendela diri
    Niat bermunajat pada Illahi
    Nyai
    Maseh aku terisak mengenang noda
    Noda berkoyan angkara alpa
    Ku tatang ampun dipersembah
    Angbakti ku buat selamanya
    Nyai
    Maseh aku dilanggasi  malap
    Malap disuloh gelap
    Aku kebutuhan segurat cahaya
    Berilah daku pedoman andeka
    Nyai
    Kini ku terpandang kunangan cahaya
    Dari celah dinding gelap kamar
    Kunangan seolah lentera dinyala
    Memutih kekuningan bercahaya

    Ijab ku dikabul mandatang
    Depan ku hadir  sawangan ledang.

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. Mikrat

    Selamat tinggal cinta ku
    Selamat tinggal sayang ku
    Selamat tinggal semua nya
    Semoga baik-baik saja
    Kini tiba waktunya
    Bergalaskan hajat mulya
    Tidak ku buat cura
    Tidak ku reka pendua rasa
    Perjalanan ku pertaruhan sepi
    Pemergian jauh tiada sangsi
    Mengembara seorang diri
    Memandang kebarat bertapak kaki
    Benarkan aku melambai mu
    Lambaian sayup punah seribu
    Mahu ku punya pingat didada
    Kepingin daku antara yang diredha
    Perjalanan jauh beronak duga
    Bekalan ku Surah Pembuka
    Dengan berkat doa......

    ReplyDelete
  15. Jemerlang sulohan

    Kenapa kita di dataran ini?
    Duduk bersimpul berhimpit-himpit
    Kepanasan 
    Keleparan
    Kehausan
    Keletihan

    Kenapa kita di dataran ini?
    Bertunda duyun
    Beratapkan kebingungan
    Diselimut kegelapan 
    Meraba-raba mencari segurat api
    Membutuhkan sebening bantuan

    Kenapa kita di dataran ini ?
    Karna hari ini kita kan ditunjukkan
    Dacing penimbang tingkah amanah
    Karkun hadir persembah buku
    Buku kan menyala penaka kandil
    Kandil bersinar jemerlang sulohan
    Semoga sirna kegemerlapan
    Pimpin lah daku keambang nirvana .

    ReplyDelete
  16. Damba

    Mau tak kau kenyang
    Tika melihat yang lain maseh kebuloran
    Mau tak kau berlagak bijak
    Tika melihat yang lain maseh bahalul dungu
    Mau tak kau bersenang lenang
    Tika melihat yang lain maseh daif kepapaan
    Mau tak kau terbahak gumbira
    Tika yang lain maseh duka nestapa
    Mau tak kau lempah
    Tika yang lain maseh menyorok tangan
    Mau tak kau membuta pandang
    Tika yang lain maseh mencari kebenderangan
    Mau tak kau membisu tegur
    Tika yang lain  maseh gagap gugup
    Mau tak kau ingat sedar
    Tika yang lain maseh hanyut khayalan

    Mau tak kau bersama ku
    Kita melangkah kedataran pertemuan
    Bermohon ramai menatang ampun

    ReplyDelete